Menjadi Guru Profesional
Untuk Anak
Bangsa
Halo! Saya Kadek Angga Arijaya Kusuma. Selamat datang di E-Portofolio saya yang berisi dokumentasi perjalanan saya selama mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Profil Mahasiswa
Asal Daerah
Saya berasal dari Busungbiu, Buleleng. Daerah ini memiliki kekhasan dalam menjaga keharmonisan adat dan keramahan warganya. Lingkungan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan saling menghargai ini membentuk integritas saya dalam bekerja, yang berdampak langsung pada terciptanya lingkungan belajar yang aman dan disiplin bagi peserta didik.
Inspirasi & Tujuan
Inspirasi saya menjadi guru bermula dari pengamatan terhadap pesatnya perkembangan teknologi yang sering kali tidak dibarengi dengan literasi digital yang memadai di kalangan generasi muda. Saya merasa terpanggil untuk berperan aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Fokus saya adalah mengarahkan potensi siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan global.
"Adalah mustahil bagi seseorang untuk mempelajari apa yang dia pikir sudah dia ketahui."
Jurnal Kegiatan PPL
Linimasa (timeline) kegiatan selama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Terbimbing.
Analisis Artefak Pembelajaran
Refleksi holistik terhadap produk penyusunan RPP/Modul Ajar selama proses PPL.
Kendala Penyusunan
Tantangan saat merancang produk pembelajaran adalah mengakomodasi heterogenitas kognitif serta keragaman profil belajar peserta didik, menyiasati keterbatasan sarana fisik di lapangan (seperti keterbatasan proyektor dan pengalihan taktis media praktikum ke smartphone akibat penggunaan laboratorium), serta mengelola efisiensi alokasi waktu untuk setiap sintaks diferensiasi. Semua hal tersebut membutuhkan analisis tambahan yang memakan waktu lama.
Konsep Pedagogi
Modul ini mengadopsi teori Sosial-Konstruktivisme (Vygotsky) yang diintegrasikan ke dalam model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL). Pemilihan teori ini dirasa tepat karena merangsang siswa untuk berpikir kritis melalui pemecahan masalah nyata (problem-based hook), sekaligus membangun pengetahuannya secara mandiri maupun kolaboratif melalui pemberian bantuan (scaffolding) yang terukur berdasarkan Zone of Proximal Development (ZPD) siswa.
Faktor Keberhasilan
Faktor yang membuat penerapan ini berhasil antara lain antusiasme peserta didik yang tinggi dalam mengeksplorasi teknologi, pemanfaatan media interaktif (seperti kuis gamifikasi Blooket/Zep Quiz serta platform digital-collaborative yang mendongkrak partisipasi aktif kelas hingga 90%), optimalisasi strategi peer tutoring (tutor sebaya) untuk menjembatani ketimpangan kognitif, serta bimbingan dan umpan balik formatif yang intensif melalui pendekatan proksimitas (kehadiran fisik guru) di tengah-tengah kelompok belajar.
Fleksibilitas (Perubahan Komponen)
Jika dihadapkan dengan situasi atau kelas yang berbeda, saya akan menyesuaikan komponen perangkat evaluasi melalui penerapan Asesmen Berjenjang (Tiered Assessment) yang dituangkan ke dalam tiga tingkatan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), yaitu level Perlu Bimbingan, Sedang, dan Mahir. Saya juga akan menajamkan stimulus berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) bagi kelompok mahir atau menyederhanakan tingkat kesulitan teks agar lebih inklusif untuk siswa dengan kompetensi awal yang berbeda.
Penilaian Terbimbing
Hasil penilaian kinerja dari Guru Pamong selama pelaksanaan Praktik Mengajar.
Siklus 1
Minggu 5-8Instrumen Penilaian Praktik Mengajar dan kelayakan perangkat pembelajaran yang digunakan pada Siklus 1.
Lihat PenilaianSiklus 2
Minggu 9-12Instrumen Penilaian Praktik Mengajar dan kelayakan perangkat pembelajaran yang digunakan pada Siklus 2.
Lihat PenilaianSiklus 3
Minggu 13-15Instrumen Penilaian Praktik Mengajar dan kelayakan perangkat pembelajaran yang digunakan pada Siklus 3.
Lihat PenilaianModel Guru yang Dituju
Saya bercita-cita menjadi guru yang Adaptif, Empatik, dan Inovatif. Guru yang tidak sekadar mengandalkan buku teks, namun selalu mampu mengkalibrasi metode pedagogi dengan karakter peserta didik di era digital. Membangun ruang kelas yang aman secara psikologis, di mana setiap siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.